iklan displayku

Sejarah Turki Usmani: Asal Usul Turki Usmani dan Perkembanganya

Asal Usul Turki Usmani

Asal mula silsilah Turki Usmani adalah dari suku Oghus, semula mereka tinggal di sebelah Utara negeri Cina selama tiga abad. Karena adanya serangan-serangan Mongol, mereka pindah ke daerah Barat mencari tempat pengungsian di Asia kecil tempat saudara-saudara mereka, yaitu bangsa Turki Saljuq (Ali, 1997: 361).
Sejarah Turki Usmani: Asal Usul Turki Usmani dan Perkembanganya

Suku pengembara ini masuk dalam kelompok Kayi. Ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi Sulaiman Syah, mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dan eksodus ke Barat, dari Khurasan menuju Armenia (Hasan, 1994: 36). Bangsa Mongol terus menyerang dan menaklukkan wilayah Islam yang berada di bawah kekuasaan dinasti Khawarajm Syah tahun 1219-1220. Sulaiman Syah meminta perlindungan kepada Jalal al-Din pemimpin terakhir dinasti Khawarajm Syah tersebut di Transoksania, sebelum dikalahkan oleh pasukan Mongol. Jalal al-Din memberi jalan agar Sulaiman pergi ke Barat tepatnya Asia kecil dan di sanalah mereka menetap.

Sulaiman ingin pindah lagi ke wilayah Syam setelah ancaman Mongol reda. Dalam usahanya pindah ke Negeri Syam itu, pemimpin orang-orang Turki tersebut mendapat kecelakaan, hanyut di sungai Euphrat, yang tiba-tiba pasang karena banjir besar tahun 1228. Mereka akhirnya terpisah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama pulang ke negeri asalnya, dan kelompok kedua berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh Erthogrol (Arthogrol), anak Sulaiman. Mereka akhirnya menghambakan dirinya kepada Sultan Ala al-Din II dari Turki Saljuq Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, asia kecil.

Bangsa Saljuq yang serumpun dan seagama dengan orang-orang Turki imigran tadi melihat bahaya bangsa Romawi Timur (Bizantium). Dengan bantuan orang-orang Turki imigran tersebut, bangsa Saljuq menang atas Romawi. Sultan memberi hadiah kepada Erthogrol sebuah wilayah yang berbatasan dengan Bizantium (Ali. 1997:361). Erthogrol mulai merintis sebuah imperium besar dengan terus merongrong wilayah Bizantium.

Erthogrol punya seorang putra bernama Usman yang diperkirakan lahir tahun 1258. Namun Usman itulah yang diambil sebagai bantuan untuk kerajaan Turki Usmani. Erthogrol meninggal tahun 1280. Usman ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahnya, sultan Saljuq sangat gembira dengan diangkatnya penerus dinasti ini, beliau banyak memberi hak istimewa kepada Usman dan mengangkatnya menjadi Gubernur dengan gelar Bey di belakang namanya. Sebagian ahli sejarah menyebut bahwa Usman bukanlah anak Erthogrol, tetapi cucunya. Sayang, bapak Usman sebelum Erthogrol meninggal.

Pada awalnya, wilayah mereka hanyalah sekitar 2000 km, atas keberhasilan Erthogrol dalam mengabdi kepada Sultan Alaudin, wilayah ini meluas hingga akhirnya mencapai 4800 km. dengan demikian Usman mewarisi wilayah yang cukup luas. Ada kisah menarik pra kepemimpinan Usman ini. Kisah tersebut menceritakan keinginan Usman untuk meminang Mal Khatun, gadis yang disebutkan terakhir ini adalah putri Syekh Edabali, seorang pekerja keras yang tinggal di sebuah pondok dekata Eskhishahr. Mal Khatun adalah kembang desa dan sudah dikenal kecantikannya. Dia dijuluki “Kemaunya” ( purnama ). Usman melamar Mal Kahtun, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Syekh Edabali. Meskipun ditolak, Usman tetap bertahan dengan keyakinannya, suatu malam setelah ia bertemu ke rumah Syekh Edabali ia bermimpi.

Dia melihat dalam mimpinya bahwa ia dan orang tua tersebut tidur berdampingan dalam satu ruangan. Lalu sebuah bulan muncul dari dada syeikh itu. Ketika bulan itu sempurna bentuknya, tiba-tiba merendah dan sembunyi di dada Usman. Kemudian dari pinggangnya tumbuh sebuah pohon yang menjalar ke seluruh permukaan bumi. Ketika Usman menceritakan mimpinya tersebut kepada Syekh Edabali, lalu ia menginterpretasikan bahwa Usman kelak akan kawin dengan seorang gadis cantik dan akan mendirikan sebuah dinasti yang akan menguasai bagian paling besar dari bumi. Sebagai konsekuensi dari mimpinya akhirnya Syekh Edabali bersedia mengawinkan putrinya dengan Usman, setelah perkawinan dilangsungkan, kekuasaan Usman bertambah dari hari ke hari.

Di tengah kepemimpinan Usman, tahun 1.300 M., tentara Mongol menyerang Saljuq dan menyebabkan terbunuhnya Sultan Alauddin. Dinasti Saljuq akhirnya berantakan terpecah menjadi negara kecil-kecil. Pada saat inilah Usman mendirikan kerajaan Usmani.

PERKEMBANGAN DINASTI TURKI USMANI

1. Sultan Turki Ustmani

Raja-raja Turki Ustmani bergelar sultan dan sebagian lainnya merangkap sebagai khalifah. jabatan rangkap tersebut (khalifah) dimulai sejak masa Sultan Salim I, karena dialah yang telah mengambil alih ”drajat" tersebut dari al Mutawakkil ’ala Allah, salah seorang keturunan bani Abbas yang menyelamatkan diri dari serangan Mongol terhadap Baghdad pada tahun 1235 M (Mughni, 1997:59). Dalam tempo waktu 625 tahun (1299-1924), telah berkuasa sebanyak 38 sultan, mereka itu adalah:

1. Usmani (1299-1326)
2. Orkhan (Putra Usman I) (1326-1359)
3. Murad (Putra Orkhan I) (1359-1389)
4. Bayazid (Putra Murad I) (1389-1402)
5. Muhammad I (Putra Bayazid I) (1403-1421)
6. Murad Il (Putra Muhammad I) (1421-1451)
7. Muhammad II a] Fatih (Putra Murad II)(14511481)
8. Hayazzid II (Putra Muhammad II) (1481-1512)
9. Salim I (Putra Bayazid II) (1512-1520)
10. Sulaiman I al Qanuni (Putra Salim I) (1520-1566)
11. Salim II (Putra Sulaiman I) (1566-1573)
12. Murad II (Putra Salim II) (1573-1596)
13. Muhammad II (Putra Murad 111) (1596-1603)
14. Ahmad I (Putra Muhammad 111) (1603-1617)
15. Mustafa I (Putra Muhammad 111) (1617-1618)
16. Suman I (Putra Ahmad 111) (1618-1622)
17. Murad I (yang kedua kalinya) (1622-1623)
18. Murad IV (Putra Ahmad I) (1623-1640)
19. Ibrahim I (Putra Ahmad I) (1640-1648)
20. Muhammad II (Putra Ibrahim 1) (1648-4687)
21. Sulaiman I (Putra Ibrahim I) (1687-1691)
22. Ahmad II (Putra Ibrahim I) (1691-1695)
23. Mustafa II (Putra Muhammad IV) (1695-1703)
24. Ahmad II (Putra Muhammad IV) (1703-1730)
25. Mahmud I (Putra Mustafa 11) (1730-1754)
26. Usman III (Putra Mustafa 11) (1754-1757)
27. Mustafa III (Putra Ahmad III) (1757-1774)
28. Abdul Hamid I (Putra Ahmad III)(1774-1788)
28. Salim III (Putra Mustafa III) (1789-1807)
30. Mustafa IV (Putra Abdul Hamid I) (1807-1808)
31. Mahmud II (Putra Abdul Hamid I) (1808-1839)
32. Abdul Majid (Putra Mahmud II) (1839-1808)
33. Abdul Aziz (Putra Mahmud II) (1807-1861) 34. Murad V (Putra Abdul Majid I) (1861-1876) 35. Abdul hamid II (Putra Abdul Majid I) (18761909)
36. Muhammad VI (Putra Abdul Majid I) (19091918)
37. Muhammad VI (Putra Abdul Majid I) (19181922)
38. Abdul Majid II (1922-1924), hanya bergelar khalifah, tanpa sultan, yang pada tahun 1924 dimakzulkan oleh Kemal Attaturk, kemudian
diganti dengan sistem Republik.

Pemerintahan Turki Usmani yang memakai sistem meonarchi dikuasai oleh banyak sultan, yaitu 38 orang. Dalam pembahasan ini akan diangkat beberapa nama yang sangat besar pengaruhnya terhadap kejayaan Turki.

Sultan yang paling berpengaruh terhadap kejayaan Turki Utsmani

1. Khalifah Usman
Usman memerintah tahun 1299-1326 (Mughni 1977:54) ada juga yang memperkirakan peresmian dirinya setelah tahun 1299 tersebut, mengingat serangan tentara Mongol berkisar antara tahun 1300 (Harb, 1994:10). Perluasan wilayah Usman melalui penaklukan wilayah-wilayah Bizantium. Untuk daerah-daerah yang ditaklukkannya, Usman mengirim surat kepada penguasanya untuk memilih tiga alternatif, yaitu: tunduk dan memeluk agama Islam, membayar Jizyah atau diperangi. Sebagian banyak wilayah tersebut memilih alternatif pertama, sedangkan sebagian kecilnya bersekutu dengan tentara Taratar untuk menggempur tentara Usman. Perluasan wilayah yang dilakukan Usman hampir tidak mendapatkan hambatan. Pada masa kekuasaannya ia berhasil melakukan ekspansi ke daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Brussa tahun 1317 M. Kota ini akhirnya dijadikan pusat kerajaan oleh anaknya Orkhan.

Pada masa kepemimpinan Usman memang tidak banyak wilayah dapat ditaklukkan, tetapi ia berhasil mendidik putranya Orkhan menjadi penerus dinasti untuk melanjutkan usaha-usaha ekspansi yang sudah dirintis.

2. Orkhan

Usman diganti oleh anaknya yang kedua, Orkhan. Anaknya yang pertama, Alauddin, tidak berminat pada kekuasaan. Ia lebih memilih hidup sebagai ulama dengan menekuni pendidikan agama daripada penguasa. Sekalipun Usman lebih memilih Orkhan sebagai pelanjut tahta. Orkhan sendiri terkesan sungkan karena merasa


melangkahi kakaknya. Akhirnya Alauddin bersedia ditempatkan pada jabatan menteri, suatu hal yang sangat menarik dan sekaligus menunjang bagi keutuhan keluarga istana.

Orkhan berhasil melebarkan sayap dalam waktu yang relatif singkat. Teritorial Turki Usmani menjadi lebih besar empat kali lipat dari sebelumnya. Ia melanjutkan penaklukan kota-kota yang masih dikuasai Bizantium di Asia minor. Kota-kota atau daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan oleh Orkhan antara lain : Nicea, kawasan Bosphorus Bizantium dapat digusur keluar kawasan Asia. Ia lebih memilih gelar Sultan daripada Amir; sebenarnya ini menunjukkan kecenderungannya kepada kekuasaan daripada memerintah sebuah negara.

Dialah penguasa Turki pertama yang berhasil membuat uang logam dengan cover dirinya sendiri, uang logam tersebut bertuliskan: ”Semoga Allah melanggengkan kekuasaan Orkhan bin Usman (Hasan, 1994 : 126). Masa kepemimpinan Orkhan dan kepemimpinan Usman adalah rasa pembentukan kekuatan militer. Mereka menjadikan Turki sebagai negara yang memakai sistem dan prinsip militer. Apalagi hal ini didukung oleh tabiat bangsa Turki yang bersifat militer, disiplin dan patuh terhadap peraturan. Pecahnya perang dengan Bizantium pada masa Orkhan memberi inspirasi kepada khalifah untuk mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan militer sehingga terbentuklah sebuah kesatuan militer yang dikenal dengan sebutan Yennisary (inkisariyah).

Orkhan meninggal tahun 1359 dalam usia 72 tahun. Dialah pembangunan Imperium Turki. Kemajuan lain yang dicapainya selain di bidang militer dan perluasan wilayah adalah pembangunan masjid-masjid, kolam renang umum dan sekolah. Dia dikenal sebagai Sultan Turki pertama yang menaruh perhatian pada pendirian sekolah (Hasan, 1994, 128).

3. Murad I

Orkhan digantikan oleh anaknya Murad I. Pada saat diangkat, Murad I sudah berusia 40 tahun. Sesaat setelah Orkhan meninggal, terjadi pemberontakan di Anatolia, dengan mengerahkan pasukan militer, pemberontakan tersebut dapat diatasi. Kebijaksanaan militer pada masa Murad I lebih ditekankan lagi. Yenissari berbasis pratawanan perang yang dikembangkannya menjadi beberapa korps. Perombakan diadakan di tubuh militer secara keseluruhan. Seluruh pasukan dididik dan dilatih dalam asrama militer yang dibekali dengan semangat perjuangan Islam. Kekuatan militer Yennisari berhasil mengubah negara Usman yang baru lahir itu menjadi imperium yang memiliki kekuatan militer paling kuat saat itu, yang mendorong semangat penaklukan wilayah.

Serangan yang menentukan pada masa Sultan Murad I ini adalah yang terjadi di Kossovo. Serangan tersebut diarahkan kepada pasukan Kristen yang sudah mulai panik melihat kegemilangan pemerintahan Usmani ini. Semua pasukan Kristen di bawah intruksi Paus yang merupakan gabungan dari dua wilayah, Slavia dan Serbia berhasil ditumpas. Namun sayang Sultan tewas di sana setelah pertempuran usai di tangan seorang prajurit Kristen yang berpura-pura mati.

Pada masa Bayazid, Eropa semakin cemas terhadap perkembangan Turki Usmani. Paus mengobarkan semangat perang dan mengumpulkan pasukan sekutu Eropa untuk mementahkan laju ekspansi dinasti kuat ini. Pasukan tersebut dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Akan tetapi pasukan ini dapat dikalahkan oleh Bayazid dengan gemilang

Ketika kerajaan Turki memfokuskan perhatian dalam penaklukan Konstantinopel, tentara Timur Lenk melakukan serangan ke wilayah Asia Kecil. Pertempuran terjadi di Ankara dan pasukan Turki mengalami kekalahan dengan tertawannya Bayazid beserta putranya Musa yang kemudian wafat dalam tahanan pada tahun 1403. Hal ini tentu saja berpengaruh bagi kelemahan politik Usmani sehingga banyak daerah yang dikuasai oleh Bani Saljuq yang ingin melepaskan diri. Kemudian wilayah Serbia dan Bulgaria juga menyatakan kemerdekaannya. Keadaan diperparah dengan adanya perebutan kekuasaan di antara putra Bayazid.

Usai pemerintah Bayazid kerajaan Usmani memasuki tahap pematangan sistem kerajaan dan perluasan wilayah yang terbesar.

4. Muhammad I

Perebutan kekuasaan dapat diatasi dengan naik tahtanya Sultan Muhammad I. Ia dapat menyatakan saudara-saudaranya kembali setelah berjuang selama 10 tahun. Usaha Muhammad yang pertama adalah mengadakan perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Kemudian usahanya ini dilanjutkan oleh Murad II, yang menghantarkan Turki Usmani memasuki puncak kejayaannya di bawah pemimpin Sultan Muhammad II yang bergelar Al-Fatih. Usaha yang dilakukan sultan Muhammad untuk merebut wilayah Eropa adalah membuat perjanjian damai terlebih dahulu dengan raja-rajanya dan menaklukan wilayah-wilayah yang menentangnya satu demi satu, sehingga wilayah Usmani‘ kembali bersatu. Integrasi itu menimbulkan kekhawatiran di pihak Kristen. Akhirnya ambisi Kristen ini memaksa Murad II berdamai dengan pihak Kristen. Perdamaian itu dikhianati oleh pihak Kristen, akan tetapi dengan semangat penuh akhirnya Sultan Murad II yang sudah akan mengundurkan diri ini berhasil melumpuhkan pasukan Kristen di bawah pimpinan Huynade.

5. Muhammad II

Sesuai dengan gelarnya al Fatih, Sultan Muhammad II adalah penakluk Bizantium dan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstantinopel, maka terbukalah peluang untuk menaklukan wilayah-wilayah Eropa lainnya. Ketika melakukan pengepungan terhadap Konstantinopel, selain mempersiapkan persenjataan dan fisik pasukan, Sultan Muhammad II juga mempersiapkan ruhani kepada mereka. Ia memerintahkan pasukannya untuk berpuasa sehari penuh sebelum melakukan penyerangan guna membersihkan jiwa mereka. Mereka juga diperintahkan untuk terus beristigfar dan banyak berdoa, serta meninggalkan perbuatan dosa.

Karena perbuatan dosa akan menghalangi pertolongan Allah (Hadi dkk, 1994:44). Ia melarang pasukannya merusak tempat ibadah agama lain dan melindungi pendeta-pendeta serta orang-orang yang tergolong lemah. Tindakan seperti ini menimbulkan simpati rakyat Kristen ortodoks. Ketika al Fatih menaklukan Serbia, Bosnia Herzegovina penguasa setempat langsung menyatakan tunduk di bawah pemerintahan Turki dengan alasan bahwa pasukan Islam lebih lemah lembut daripada kaum Nasrani Katolik (Hadi dkk, 1994:49). Dengan cara yang simpatik itu pula al Fatih berhasil menaklukan Athena, semenanjung Maura Albaina sampai pada perbatasan Bundukia (Hasjmy, 1995:365).

Sultan Muhammad II memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ia sendiri memiliki kemampuan intelektual yang sangat baik, bahkan diriwayatkan ia mampu menguasai lima bahasa. Di Konstantinopel, ia mendirikan masjid-masjid, rumah sakit dan perguruan tinggi. Ia membangun masyarakat cendekiawan dan senang sekali berdialog dengan mereka (Mahmudunnaser, 1994:411). Pada tahun 1481 Muhammad al Fatih meninggal dunia dalam usia 55 tahun ia digantikan oleh Salim I.

6. Salim I dan Sulaiman Al Qonuni

Namun pada masa Sultan Salim I, yang berkuasa pada tahun 1512-1520 M, ia mengalihkan perhatiannya ke arah Timur dengan menguasai Persia, Syiria dan Dinasti Maliki di Mesir. Usaha ini juga ternyata diikuti oleh penguasa berikutnya yaitu sultan Sulaiman al Qonuni yang naik tahta tahun 1520-1566 M. Ia lebih tertarik untuk memfokuskan ekspansi ke wilayah yang berada di sekitar Turki Usmani. Adapun daerah-daerah yang dapat dikuasainya, di antaranya Irak, Balgrado, Pulau Rhodes, Tunis, Budapes, dan Yaman. Dengan demikian wilayah Turki Usmani ini mencakup Asia kecil, Armenia, Irak, Siria, hijaz dan Yaman di Asia. Sedangkan di Afrika mencakup Mesir, Libia, Tunis dan Aljazair. Di wilayah Eropa Turki berhasil menyapu Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria dan Rumania.

Kemunduran Turki Usmani dimulai pasca pemerintahan Sulaiman al Qonuni. Namun karena demikian besarnya kekhalifahan ini, kemerosotan itu tidak begitu kentara, bahkan masih bias bertahan selama lima abad lagi. Pra penguasa pasca Sulaiman Al Qonuni mabuk oleh kemegahan yang dicapai pendahulu mereka, hingga memperlemah struktur maupun system pemerintahan.

0 Response to "Sejarah Turki Usmani: Asal Usul Turki Usmani dan Perkembanganya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel