iklan displayku

Cara Penyebaran dan Pencegahan Virus Corona (COVID-19)

Bagaimana Penyebaran Virus Corona (COVID-19) ditularkan?

Secara teoritis, Virus Corona atau COVID-19 menyebabkan penularan dari manusia ke manusia. Cara penularan dari sumber infeksi ke populasi yang rentan adalah penularan percikan (drop/et transmission), penularan kontak, dan penularan melalui udara terutama pada udara dingin.
Cara Penyebaran dan Pencegahan Virus Corona (COVID-19) (COVID-19)

Selain dari suhu udara yang dingin, faktor-faktor utama seperti pergerakan populasi membuat penyakit infeksi pernapasan lebih mudah terjangkit di musim dingin. Penularannya terutama melalui percikan cairan yang dihembuskan oleh pasien atau pembawa virus ketika mereka batuk atau bersin.

Apa faktor risiko penularan?

Musim gugur dan musim dingin adalah musim yang rawan penyakit virus pernapasan seperti influenza, dan berbagai infeksi pernapasan lainnya. Inilah yang menyebabkan tahap awal COVID-19 sulit dibedakan dari infeksi pernapasan atas lainnya.

Sumber utama infeksi pada pneumonia komunitas adalah pasien, keluarga mereka, pengunjung, dan lingkungan tempat tinggal mereka.

Penyebaran dan akibat dari pneumonia komunitas terkait dengan faktor-faktor berikut:

(1) Kondisi lingkungan: polusi udara, kepadatan di ruang terbatas, kelembaban, kebersihan dalam ruangan, musim, dan suhu.

(2) Aksesibilitas dan efektivitas layanan perawatan kesehatan dan tindakan pencegahan infeksi: Aksesibilitas dan ketersediaan vaksin dan fasilitas perawatan kesehatan, dan kemampuan isolasi.

(3) Faktor pasien: usia, kebiasaan merokok, penularan, status kekebalan, status gizi, infeksi sebelumnya atau koinfeksi patogen lain, dan kesehatan secara keseluruhan.

(4) Karakteristik patogen: cara penularan, infektivitas, virulensi, dan populasi mikroba (ukuran inokulasi).
Cara Penyebaran dan Pencegahan Virus Corona (COVID-19) (COVID-19)

Bagaimana mencegah penularan pneumonia komunitas?

Mengendalikan sumber infeksi: Ketika batuk atau bersin, pasien dengan penyakit pernapasan akut harus menutup hidung dan mulut mereka dengan lengan atau bahan lain (saputangan, handuk kertas, atau masker) untuk mengurangi penularan percikan. Setelah terpapar sekret pernapasan, segera bersihkan tangan, dan sering-seringlah mencuci tangan dalam kehidupan sehari-hari.

Tindakan pencegahan pribadi sebagai berikut:

(1) Makan makanan yang seimbang, memastikan nutrisi yang cukup, dan menjaga kesehatan mulut dapat membantu mencegah infeksi.
(2) Olahraga untuk meningkatkan imunitas.
(3) Berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan tetap bersemangat.
(4) Pastikan bahwa ventilasi dalam ruangan: ventilasi alami dan/atau menggunakan kipas angin agar aliran udara lebih baik.
(5) Bila ada, lakukan vaksinasi.
Baca juga

Siapa yang rentan terhadap Covid-19?

Novel coronavirus ini baru saja muncul pada manusia. Oleh karena itu, secara umum, masyarakat rentan terhadap virus tersebut karena tidak memiliki kekebalan terhadapnya.

COVID-19 dapat menginfeksi individu dengan kekebalan normal atau terganggu. Jumlah paparan terhadap virus itu juga menentukan apakah Anda terinfeksi atau tidak. Jika Anda terpapar sejumlah besar virus, Anda mungkin jatuh sakit walaupun fungsi kekebalan tubuh Anda normal. Untuk orang dengan fungsi kekebalan yang buruk, seperti orang tua, wanita hamil atau orang dengan gangguan hati atau ginjal, penyakit ini berkembang relatif cepat dan gejalanya lebih parah.

Faktor dominan yang menentukan apakah seseorang terinfeksi atau tidak adalah peluang untuk terpapar virus tersebut. Jadi, tidak dapat disimpulkan bahwa kekebalan yang lebih baik akan menurunkan risiko seseorang untuk terinfeksi. Anak-anak memiliki lebih sedikit kemungkinan terpapar dan dengan demikian kemungkinan terinfeksinya lebih rendah. Namun, dengan jumlah paparan yang sama, orang lanjut usia, orang dengan penyakit kronis atau fungsi kekebalan yang terganggu akan lebih mungkin terinfeksi virus ini.

Apa saja karakteristik epidemiologi COVlD-19?

Epidemi COVID-19 kini telah melalui tiga tahap: wabah lokal, penularan masyarakat, dan tahap tersebar luas (epidemik).

Dinamika penularan: pada tahap awal epidemi ini, masa inkubasi rata-ratanya adalah 5,2 hari; waktu penggandaan epidemi adalah 7,4 hari, yaitu jumlah orang yang terinfeksi berlipat dua dalam 7,4 hari; rata-rata interval kontinunya (rata-rata waktu interval penularan dari satu orang ke orang lainnya) adalah 7,5 hari; regeneration index (RD) dasarnya diperkirakan 2,2-3,8, artinya rata-rata setiap pasien menularkan kepada 2,2-3,8 orang lainnya.

Interval rata-rata utama: untuk kasus sedang, interval rata-rata sejak terjangkit sampai kunjungan pertama ke rumah sakit adalah 5,8 hari, dan sejak terjangkit sampai dirawat di rumah sakit adalah 12,5 hari; untuk kasus berat interval rata-rata sejak terjangkit hingga dirawat di rumah sakit adalah 7 hari dan sejak terjangkit sampai diagnosis adalah 8 hari; untuk kasus fatal, rata-rata interval sejak terjangkit sampai diagnosis lebih lama (9 hari), dan sejak terjangkit sampai kematian adalah 9,5 hari.

Tahap penularan: epidemi COVID-19 melalui tiga tahapan:

1) tahap wabah lokal (kasus-kasus pada tahap ini kebanyakan terkait dengan paparan pasar seafood);
2) tahap penularan masyarakat (penularan interpersonal dan terklusternya penularan dalam masyarakat dan keluarga);
3) tahap tersebar luas (penyebaran yang cepat, dengan aliran populasi yang luas, sampai ke seluruh negara Tiongkok dan bahkan seluruh dunia).

Apa saja rute penularan COVID-19?

Saat ini, diyakini bahwa penularan melalui percikan pernapasan dan kontak adalah rute utamanya, tapi terdapat risiko penularan fecal-oral. Penularan aerosol, penularan dari ibu ke anak, dan rute-rute lainnya belum terkonfirmasi.

1) Penularan percikan pernapasan: Ini adalah cara utama penularan kontak langsung. Virus ditularkan melalui percikan-percikan yang muncul saat pasien batuk, bersin, atau bicara, dan orang-orang yang rentan mungkin terinfeksi setelah menghirup percikan-percikan tersebut.

2) Penularan kontak tidak langsung: Virus ini bisa ditularkan melalui kontak tidak langsung dengan orang yang terinfeksi. Percikan yang mengandung virus tersimpan di permukaan suatu benda, yang mungkin disentuh oleh tangan. Virus dari tangan yang terkontaminasi mungkin terbawa ke saluran mukosa di mulut, hidung, dan mata orang tersebut dan membuatnya terjangkit.

3) Virus corona yang masih hidup terdeteksi dari tinja pasien terkonfirmasi, menandakan adanya kemungkinan penularan fecal-oral.

4) Penularan aerosol: Ketika percikan-percikan bertahan di udara dan kehilangan kandungan air, patogennya tertinggal dan membentuk inti percikan (yaitu aerosol). Aerosol-aerosol ini dapat terbang ke lokasi yang jauh, mengakibatkan penularan jarak jauh. Cara penularan ini disebut penularan aerosol. Belum ada bukti yang menunjukkan virus corona baru ini dapat ditularkan melalui aerosol.

5) Penularan dari ibu ke anak: Anak dari ibu yang terjangkit COVID-19 terkonfirmasi memiliki hasil positif ketika dilakukan tes usap tenggorokan 30 jam setelah lahir. Ini menandakan bahwa virus corona baru mungkin bisa menyebabkan infeksi neonatal melalui penularan ibu ke anak, tapi penelitian dan bukti sains masih diperlukan untuk mengonfirmasi rute ini.

Apa yang dimaksud dengan penularan percikan?

Percikan secara umum merujuk pada partikel mengandung air dengan diameter lebih dari 5 pm.

Percikan dapat memasuki permukaan mukosa dalam jarak tertentu (biasanya 1 m). Karena ukuran dan berat percikan yang relatif besar, percikan tidak dapat tergantung di udara terlalu lama.

Terbentuknya percikan pernapasan:
(1) Batuk, bersin, atau bicara
(2) Selama prosedur saluran pernapasan invasif, misalnya tindakan pengisapan atau bronkoskopi, intubasi trakea, gerakan-gerakan yang menstimulasi batuk termasuk berganti posisi di tempat tidur atau menepuk-nepuk punggung, dan resusitasi jantung paru, dll.

Patogen yang ditularkan oleh percikan: virus influenza, virus corona SARS, adenovirus, rhinovirus, mycoplasma, streptococcus kelompok A, dan meningococcus (Neisseria), dan yang baru-baru ini ditemukan COVID-19.

Apa yang dimaksud dengan penularan melalui udara (airborne)?

Penularan melalui udara (airborne) juga dikenal sebagai penularan aerosol. Aerosol adalah partikeI-partikel kecil atau percikan yang tergantung di udara yang bisa ditularkan melalui udara. Secara umum aerosol dianggap diameternya lebih kecil daripada 5 pm, dan patogen yang dibawa

oleh aerosol masih memiliki kemampuan menularkan setelah beterbangan dalam jarak jauh. Patogen airborne juga dapat ditularkan lewat kontak langsung. Patogen airborne dikelompokkan menjadi berikut:

1) Hanya melalui udara (airborne): Mycobacterium tubercolosis, Aspergillus

2) Melalui beberapa rute, tapi terutama melalui udara (airborne): virus campak, virus varicella-zoster.

3) Biasanya melalui rute lainnya, tapi juga dapat ditularkan melalui udara (airborne) hanya pada kondisi-kondisi tertentu (misalnya intubasi/insisi trakea, tindakan pengisapan jalan napas dan prosedur-prosedur lain yang menghasilkan aerosol): virus cacar, virus corona SARS. COVID-19, virus influenza dan norovirus, dll.

Apa yang dimaksud dengan penularan kontak?

Penularan kontak merujuk pada penularan patogen melalui kontak langsung maupun tidak langsung lewat benda-benda yang membawa patogen.

1) Kontak langsung: Patogen ditularkan melalui kontak langsung mukosa atau kulit dengan pembawa yang terinfeksi.

Darah atau cairan berdarah memasuki tubuh melalui membran mukosa atau kulit yang terluka (terutama virus)

Penularan akibat kontak dengan sekresi yang mengandung patogen tertentu, biasanya untuk infeksi bakteri, virus, parasit, dll.

2) Kontak tidak langsung: Patogen ditularkan melalui benda atau manusia yang

terkontaminasi. Patogen penyakit menular yang berhubungan dengan pencernaan biasanya ditularkan melalui kontak tidak langsung.

3) Patogen-patogen penting lainnya ditularkan melalui kontak tidak langsung: MRSA(Staphlococcus aureus yang resisten terhadap benzoxazole/methicillin), VRE (enterococcus yang resisten terhadap vancomycin), Clostridium difficile.

Apa yang disebut dengan kontak dekat?

Kontak dekat merujuk pada orang-orang yang memiliki kontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau diduga terjangkit COVID-19), di dalamnya termasuk situasi-situasi berikut.

1) Mereka yang tinggal, belajar, bekerja, atau melakukan kontak dekat bentuk lain dengan pasien.

2) Personel medis, anggota keluarga, atau orang lain yang sempat melakukan kontak dekat dengan pasien tanpa melakukan langkah-langkah perlindungan diri selama mendiagnosis, mengobati, merawat, dan mengunjungi.

3) Pasien lain dan orang-orang yang menemani yang berbagi bangsal sama dengan pasien terjangkit.

4) Mereka yang berada dalam kendaraan transportasi atau lift yang sama dengan pasien.

5) Mereka yang ditentukan sebagai kontak dekat melalui penyelidikan lapangan.

Mengapa harus dilakukan observasi medis terisolasi terhadap kontak dekat selama 14 hari?

Saat ini, periode inkubasi COVID-19 yang telah diobservasi umumnya adalah 14 hari.

Pengawasan ketat terhadap para kontak dekat dan langkah-langkah preventif lainnya sangat diperlukan. Ini bukan saja merupakan langkah tanggung jawab sosial terhadap kesehatan publik, tapi juga sesuai dengan konvensi internasional. Dengan merujuk pada periode inkubasi penyakit-penyakit yang disebabkan virus-virus corona lainnya, informasi dari kasus-kasus terkini COVID-19, juga praktik pencegahan dan kontrol terkini, semua kontak dekat harus diobservasi medis selama 14 hari di rumah.

0 Response to "Cara Penyebaran dan Pencegahan Virus Corona (COVID-19) "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel